24 April 2026

ORANG YANG FASIK TERHADAP TUHAN

Jumat, 23 April 2026
Renungan Pagi 

Yudas 1:16
Mereka itu orang-orang yang menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, hidup menuruti hawa nafsunya, tetapi mulut mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan dan mereka menjilat orang untuk mendapat keuntungan.

ORANG YANG FASIK TERHADAP TUHAN 

Mereka itu, yang cara hidupnya digambarkan dalam ayat ini, mengacu pada orang-orang yang akan dihakimi oleh beribu-ribu orang kudus yang akan datang bersama dengan Tuhan karena berdosa kepada Tuhan.

Fasik terhadap Tuhan adalah orang-orang berdosa tetapi bermuka dua; manis mulut di depan mata tetapi hati serong. Fasik adalah sebutan bagi mereka yang biasa disebut sebagai musang berbulu domba.

Ciri orang fasik yang pertama adalah selalu menggerutu tentang kehidupan; tidak pernah merasa cukup dan selalu merasa malang dalam kehidupan ini; tidak merenung dan mengakui bahwa Allah terus ada menjadi pemberi hidup walau dalam keadaan terjepit sekalipun.

Hawa nafsu adalah keinginan yang terlalu besar akan kenikmatan sehingga mata membelalak dan hati tertutup karenanya untuk mendapatkan keinginannya dengan cara apa pun termasuk yang melanggar. Perkataan yang bukan-bukan adalah perkataan yang karena dikuasai oleh hawa nafsu, maka dikeluarkan dengan berbagai macam cara untuk menyakiti orang lain dan menyombongkan diri. Akibat hawa nafsu yang berikut adalah menjilat demi keuntungan pribadi, yakni bertindak menyenangkan orang-orang tertentu untuk mendapatkan keuntungan pribadi dengan melupakan perasaan orang lain dan tidak menghiraukan kehendak Tuhan.

Kefasikan itu bisa terjadi di mana saja tetapi lihatlah bahwa apa pun yang kautanam akan kautuai pada akhirnya; gerutu berbuah kekerdilan dan hawa nafsu itu berbuah kekacauan dan perpecahan.

1 Korintus 5:8
Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran. 
1 Dilihat

23 April 2026

HUKUMAN ORANG BERSALAH

Kamis, 23 April 2026 ed
Renungan Pagi 

Nahum 1:3
TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya.

HUKUMAN ORANG BERSALAH

Ayat ini adalah bagian antara dari bagian yang menyampaikan kemarahan Tuhan kepada musuhNya (Asyur yang ibukotanya adalah Niniwe) dan bagian lainnya yang lebih universal bagi seluruh umat 

Panjang sabar Allah itu dimaksudkan bahwa Ia untuk waktu tanpa batas memberi kesempatan bagi manusia untuk datang kepadaNya dan menjadi orang yang diberkati dengan damai sejahtera dan keselamatan.

Kemahakuasaan Tuhan adalah dalam kenyataan bahwa tidak ada yang mampu menghalangi berkat atau perwujudan marahNya kepada manusia. Apa yang dilakukanNya tidak bisa dibatalkan oleh siapa pun dengan cara apa pun. Keadaan kemahakuasaan Allah digambarkan dalam gambaran kedahsyatan yang semuanya tidak terjangkau oleh kemampuan manusia; awan adalah debu kakiNya lambang dari perkara besar yang tidak dijangkau manusia hanya hal kecil bagi Tuhan; berjalan dalam puting beliung dan badai adalah gambaran kebesaran Allah bahkan lebih besar dari hal-hal yang sudah dahsyat bagi manusia.

Orang bersalah dihukum adalah mereka yang dengan kekerasan hatinya tetap dalam keadaan bersalahnya sehingga kesalahan itu sendiri menjadi hukuman bagi kehidupannya; ditolak, dihindari, dan kehilangan harga diri serta wibawa.

Jika kekerasan hati itu tetap sampai batas manusia, baik itu kemampuan maupun kesempatan, maka di situlah penghukuman Allah atas kesalahan yang tidak bisa lagi dibendung oleh daya apa pun yang dimiliki oleh manusia. Peluang kesabaran Allah itu adalah untuk diberkati dan bukan untuk dihukum oleh kenyataan bahwa Allah pada akhirnya tidak membiarkan kesalahan tidak dihukumNya.

Efesus 3:20-21
Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.
1 Dilihat

21 April 2026

MALU ATAS KEPERKASAAN

Rabu, 22 April 2026
Renungan Pagi 

Mikha 7:16
Biarlah bangsa-bangsa melihatnya dan merasa malu atas segala keperkasaan mereka; biarlah mereka menutup mulutnya dengan tangan, dan telinganya menjadi tuli.

MALU ATAS KEPERKASAAN

Keperkasaan itu bisa dalam hal fisik tetapi juga dalam pengertian kekuasaan. Jika keduanya tidak dimiliki secara bersamaan, maka yang satu membutuhkan yang lain dan pengetahuan tentang kebijaksanaan memandu keduanya ke kehidupan yang permai; atau jika tidak, kesewenang-wenangan memenuhi kehidupan.

Keperkasaan kekuasaan yang didukung oleh keperkasaan fisik --kedigdayaan Kanuragan dalam film-film klasik-- merupakan pasangan yang baik untuk mendukung kelanggengan takhta.

Keperkasaan diukur dengan 'di atas langit masih ada langit.' Selama langit di atas belum nampak, maka dialah langit yang tertinggi. Pembandingan membuat nilai keperkasaan tidak pernah mutlak.

Bangsa-bangsa yang keperkasaannya diukur dengan harta, militer dan persenjataannya, serta sumber daya alam dan manusia yang dimilikinya akan menjadi malu jika membandingkan keperkasaannya dengan kuasa Tuhan yang tidak terhingga. Menutup mata dengan tangan dan telinga menjadi tuli adalah tanda tidak mau melihat dan mendengar lagi hal kekuasaan Tuhan sebab akan membuatnya semakin malu.

Allah adalah langit tertinggi; tidak ada langit manusia yang bisa melihat dan memahaminya. Tidak terjangkau tetapi menjangkau, tidak terselami oleh pemahaman namun memberi hikmat, tidak terkatakan tetapi menjawab segala perkara.

Yeremia 32:17
Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apa pun yang mustahil untuk-Mu!
1 Dilihat