Renungan Pagi
Pengkhotbah 9:18
Hikmat lebih baik dari pada alat-alat perang, tetapi satu orang yang keliru dapat merusakkan banyak hal yang baik.
HIKMAT TIDAK KELIRU
Lengkapnya, perikop ini adalah kisah seorang berhikmat yang dengan hikmatnya menyelamatkan kota kecil yang penduduknya tidak seberapa ketika diserang oleh seorang raja agung; berarti diserang dengan kekuatan yang besar. Orang berhikmat ini tidak diingat sebab ia miskin.
Kekeliruan pertama yang mau ditegur Pengkhotbah adalah cara pandang terhadap manusia yang pada umumnya lebih kepada status kekayaan dan kejayaannya, sedangkan yang terbaik adalah pada jasanya.
Perlengkapan yang baik (alat-alat perang) perlu untuk konsistensi dan stabilitas kehidupan tetapi itu hanya alat yang terbatas, baik oleh jumlah, kualitas, dan kemampuan sumber daya manusia untuk menggunakannya. Jika alat yang baik dipakai secara salah oleh orang tak berhikmat, maka itu adalah sumber malapetaka.
Orang berhikmat membutuhkan alat tetapi tidak tergantung pada alat itu; orang berhikmat itu selalu menyelamatkan pada segala situasi dan tahu membaca situasi untuk mengambil keputusan yang tepat.
Kebijakan (keputusan yang ditetapkan seseorang atau diputuskan bersama) yang keliru adalah 'bijak salah' (=pelesetan) yang merusakkan banyak hal yang baik. Kehancuran biasanya berawal dari kebijakan kecil yang keliru lalu menjadi kebiasaan yang merusak.
Yakobus 4:17
Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.