Renungan Pagi
Zefanya 2:15
Itulah kota yang beria-ria yang penduduknya begitu tenteram dan yang berkata dalam hatinya: "Hanya ada aku dan tidak ada yang lain!" Betapa dia sudah menjadi tempat yang tandus, tempat pembaringan bagi binatang-binatang liar. Setiap orang yang lewat dari padanya akan bersuit dan mengayun-ayunkan tangannya.
TEMPAT PEMBARINGAN BINATANG LIAR
Nubuat nabi tentang Asyur dengan Niniwe sebagai ibukotanya. Bangsa yang pernah menguasai banyak wilayah dengan mengalahkan bangsa-bangsa.
Asyur terkenal sebagai bangsa yang angkuh yang melihat bangsa-bangsa lain sebelah mata; semua dianggapnya kecil dan bisa dikalahkannya dengan kekuatan prajuritnya dan kereta perangnya canggih.
Latarbelakang keangkuhan mereka adalah karena keadaan mereka yang begitu tenteram yang didukung oleh berbagai faktor termasuk kekuatan militernya yang mampu mengalahkan bangsa-bangsa sehingga kekayaan banyak bangsa mengalir kepada mereka. Mereka menjadi bangsa yang melihat dirinya sebagai 'yang satu-satunya'. Pada akhirnya mereka akan jatuh dan memprihatinkan.
Bersuit adalah ungkapan rasa heran karena sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya bisa terjadi, yaitu bangsa yang kuat dan besar dapat terjadi; suit-suit itu bisa dituliskan dengan pengungkapan sekarang sebagai decak keheranan: ck ck ck ck ck. Tangan yang terayun-ayun adalah tangan yang mengibas bau yang tidak menyenangkan dari daerah yang dikalahkan dan tidak terawat. Bau keangkuhan itu mengganggu kenyamanan hidup bersama.
Belajar dari bangsa Asyur, mari menyadari bahwa awal kehancuran manusia, baik pribadi, kekeluargaan, maupun dalam sosial masyarakatnya, adalah keangkuhan; sebab itu semakin baik keadaan hidup seseorang dan semakin sukses seseorang dalam kehidupan, maka seharusnya semakin rendah hati menjalani hidup karunia Tuhan.
Roma 12:16
Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!