Renungan Pagi
Mikha 7:16
Biarlah bangsa-bangsa melihatnya dan merasa malu atas segala keperkasaan mereka; biarlah mereka menutup mulutnya dengan tangan, dan telinganya menjadi tuli.
MALU ATAS KEPERKASAAN
Keperkasaan itu bisa dalam hal fisik tetapi juga dalam pengertian kekuasaan. Jika keduanya tidak dimiliki secara bersamaan, maka yang satu membutuhkan yang lain dan pengetahuan tentang kebijaksanaan memandu keduanya ke kehidupan yang permai; atau jika tidak, kesewenang-wenangan memenuhi kehidupan.
Keperkasaan kekuasaan yang didukung oleh keperkasaan fisik --kedigdayaan Kanuragan dalam film-film klasik-- merupakan pasangan yang baik untuk mendukung kelanggengan takhta.
Keperkasaan diukur dengan 'di atas langit masih ada langit.' Selama langit di atas belum nampak, maka dialah langit yang tertinggi. Pembandingan membuat nilai keperkasaan tidak pernah mutlak.
Bangsa-bangsa yang keperkasaannya diukur dengan harta, militer dan persenjataannya, serta sumber daya alam dan manusia yang dimilikinya akan menjadi malu jika membandingkan keperkasaannya dengan kuasa Tuhan yang tidak terhingga. Menutup mata dengan tangan dan telinga menjadi tuli adalah tanda tidak mau melihat dan mendengar lagi hal kekuasaan Tuhan sebab akan membuatnya semakin malu.
Allah adalah langit tertinggi; tidak ada langit manusia yang bisa melihat dan memahaminya. Tidak terjangkau tetapi menjangkau, tidak terselami oleh pemahaman namun memberi hikmat, tidak terkatakan tetapi menjawab segala perkara.
Yeremia 32:17
Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apa pun yang mustahil untuk-Mu!