19 September 2026

HIKMAT TIDAK KELIRU

Sabtu, 19 September 2026
Renungan Pagi 

Pengkhotbah 9:18
Hikmat lebih baik dari pada alat-alat perang, tetapi satu orang yang keliru dapat merusakkan banyak hal yang baik.

HIKMAT TIDAK KELIRU

Lengkapnya, perikop ini adalah kisah seorang berhikmat yang dengan hikmatnya menyelamatkan kota kecil yang penduduknya tidak seberapa ketika diserang oleh seorang raja agung; berarti diserang dengan kekuatan yang besar. Orang berhikmat ini tidak diingat sebab ia miskin.

Kekeliruan pertama yang mau ditegur Pengkhotbah adalah cara pandang terhadap manusia yang pada umumnya lebih kepada status kekayaan dan kejayaannya, sedangkan yang terbaik adalah pada jasanya.

Perlengkapan yang baik (alat-alat perang) perlu untuk konsistensi dan stabilitas kehidupan tetapi itu hanya alat yang terbatas, baik oleh jumlah, kualitas, dan kemampuan sumber daya manusia untuk menggunakannya. Jika alat yang baik dipakai secara salah oleh orang tak berhikmat, maka itu adalah sumber malapetaka.

Orang berhikmat membutuhkan alat tetapi tidak tergantung pada alat itu; orang berhikmat itu selalu menyelamatkan pada segala situasi dan tahu membaca situasi untuk mengambil keputusan yang tepat.

Kebijakan (keputusan yang ditetapkan seseorang atau diputuskan bersama) yang keliru adalah 'bijak salah' (=pelesetan) yang merusakkan banyak hal yang baik. Kehancuran biasanya berawal dari kebijakan kecil yang keliru lalu menjadi kebiasaan yang merusak.

Yakobus 4:17
Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.

17 September 2026

JALAN-JALAN TUHAN

Jumat, 18 September 2026
Renungan Pagi

Mazmur 25:4-5
Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.

JALAN-JALAN TUHAN

Jalan, secara fisik, adalah wadah yang memudahkan orang untuk bergerak dari suatu tempat ke tempat lain sehingga kegiatan hidupnya dapat dilakukannya secara leluasa.

Jalan, dalam pengertian abstrak, adalah cara melakukan sesuatu agar tepat sasaran; tujuan yang mau dicapai dapat diraih dengan gemilang.

Jalan itu tidak selalu sama sebab kemampuan analisis dan cara setiap orang berbeda tetapi hendaklah cara manusia menjalani dan menjawab tantangan hidupnya adalah dengan mengerjakannya sesuai jalan Tuhan.

Jalan itu tersembunyi dan perlu diberitahukan oleh Tuhan sendiri. Kepandaian manusia, prestasi dan pengaruh yang dimiliki oleh manusia, pun kekayaan yang banyak tidak akan mampu membawa orang kepada pengetahuan tentang jalan Tuhan jika ia memang tidak pernah membuka hatinya untuk datang dan bertanya mengenai jalan Tuhan kepada manusia.

Jalan Tuhan itu banyak (jalan-jalan Tuhan) sebab Ia memang adalah Allah yang bisa hadir dalam berbagai jalan yang Ia tentukan sendiri; tetapi yang pasti bahwa itu adalah perjalanan yang dilakukan bersama Allah yang diwarnai dengan kebenaran, menuju kepada keselamatan dan terbuka bagi mereka yang selalu menanti-nanti Tuhan dan bukan secara egois menentukan jalannya sendiri.

Yohanes 14:6 
Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.