21 Oktober 2026

MEMBAWA PERKARA KE HADAPAN TUHAN

Rabu, 21 Oktober 2026
Renungan Pagi

Hakim-Hakim 11:11 
Maka Yefta ikut dengan para tua-tua Gilead, lalu bangsa itu mengangkat dia menjadi kepala dan panglima mereka. Tetapi Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa.

MEMBAWA PERKARA KE HADAPAN TUHAN

Yefta adalah pribadi yang sebelumnya diusir oleh para tua-tua Gilead sebelumnya dan diperlakukan tidak baik oleh lingkungan dalam kaumnya sendiri.

Tetapi kesempatan itu adalah waktu di mana Tuhan membentuknya menjadi pribadi yang gemilang dalam pergaulannya dengan semua orang yang dijumpainya dalam kehidupan sehari-hari.

Tua-tua Gilead yang melihat itu datang kepada Yefta dan meminta bantuan ketika mereka semakin terdesak oleh kekuasaan asing, bangsa Amon, yang menjajah mereka. Atas kesepakatan bersama, Yefta mengikuti mereka dan menjadi pemimpin atas mereka.

Yefta membawa perkara itu, tentang ia menjadi pemimpin atas orang-orang Gilead, kepada Tuhan berarti bahwa ia menerima tanggung jawab itu tidak untuk kepuasan pribadi melainkan bahwa ia melihat itu sebagai perbuatan untuk melayani Allah.

Membawa perkara kepada Tuhan, adalah perkara menyerahkan dan percaya sepenuhnya kepada Allah yang akan memberkati dan bukan percaya dan bersandar pada manusia yang bisa berubah-ubah; sebelumnya mengusir dan sekarang bersumpah setia, maka besok bisa lain lagi sikap, perkataan, dan tindakannya.

Mazmur 146:3 
Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan.

20 Oktober 2026

MENCELAKAKAN NEGERI

Selasa, 20 Oktober 2026
Renungan Pagi 

1 Samuel 14:29
Lalu kata Yonatan: "Ayahku mencelakakan negeri; coba lihat, bagaimana terangnya mataku, setelah aku merasai sedikit dari madu ini.

MENCELAKAKAN NEGERI

Raja mengumumkan puasa sebagai bentuk penyerahan diri kepada Tuhan dalam menghadapi peperangan berat yang dihadapi orang Israel melawan Filistin.

Yonatan melanggar ketentuan itu, yang memang tidak diketahuinya sebelumnya, dan dia diingatkan oleh pengawalnya bahwa ia telah melanggar ketentuan raja Saul, ayahnya.

Tanggapan Yonatan bukanlah sekedar pada ketentuan puasa itu melainkan pada ketidakmampuan ayahnya untuk memahami keadaan sebab perang itu membutuhkan tenaga dan puasa itu melemahkan tenaga.

Lebih jauh, puasa sebagai bentuk penyerahan diri kepada Tuhan yang disertai dengan ketentuan 'kutukan mati' atas yang melanggar adalah sebuah bentuk mencelakai negeri tidak hanya dalam bentuk fisik tetapi dalam bentuk moral terpaksa orang untuk melakukannya.

Mata yang terang dan semangat yang sungguh adalah harapan setiap orang dalam keputusan yang diambil oleh setiap orang dalam kehidupan bersama sehingga hidup dimurnikan untuk menang bersama Tuhan dan bukan ketentuan kutukan yang membawa orang untuk datang kepada Tuhan dan menemukan pertolongan dariNya.

Amsal 3:5-6 
Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.  Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.