20 September 2026

RENDAHKAN DIRI DI HADAPAN TUHAN

Minggu, 20 September 2026
Renungan Pagi 

Yakobus 4:10
Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.

RENDAHKAN DIRI DI HADAPAN TUHAN

Secara luas, tidak ada yang tidak di hadapan Tuhan sebab Ia melihat, mendengar, merasakan segala sesuatu; lebih dari yang melakukan suatu perkara, kepada Tuhan tidak bisa disembunyikan sesuatu sebab Ia Mahatahu.

Merendahkan diri adalah tindakan yang mengakui bahwa tingkat penguasaan kecerdasan dan atau keterampilan sebaik apa pun, juga kepemilikan sumber daya terutama ekonomi yang mapan bukanlah prestasi manusiawi tetapi adalah berkat Tuhan.

Merendahkan diri sering menjadi semacam 'tidak mensyukuri' apa yang ada padanya. Sisi sebaliknya meninggikan diri selalu berarti tidak disenangi oleh orang lain; adalah naluri manusiawi bahwa ia suka membanggakan diri.

Merendahkan diri di hadapan manusia bisa menyebabkan diri ini dipandang rendah oleh sesama dan itulah risiko yang harus dipikul oleh manusia atas dirinya.

Merendahkan diri di hadapan Tuhan, yakni mengakui bahwa semua hal yang ada adalah berkat dari Tuhan dan bentuk pengakuan akan adanya andil orang lain di dalamnya sehingga orang tidak menjadi sombong dan angkuh atas apa yang dimilikinya melainkan senantiasa mengucap syukur dan terima kasih atasnya.

2 Korintus 10:17
"Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan."

19 September 2026

HIKMAT TIDAK KELIRU

Sabtu, 19 September 2026
Renungan Pagi 

Pengkhotbah 9:18
Hikmat lebih baik dari pada alat-alat perang, tetapi satu orang yang keliru dapat merusakkan banyak hal yang baik.

HIKMAT TIDAK KELIRU

Lengkapnya, perikop ini adalah kisah seorang berhikmat yang dengan hikmatnya menyelamatkan kota kecil yang penduduknya tidak seberapa ketika diserang oleh seorang raja agung; berarti diserang dengan kekuatan yang besar. Orang berhikmat ini tidak diingat sebab ia miskin.

Kekeliruan pertama yang mau ditegur Pengkhotbah adalah cara pandang terhadap manusia yang pada umumnya lebih kepada status kekayaan dan kejayaannya, sedangkan yang terbaik adalah pada jasanya.

Perlengkapan yang baik (alat-alat perang) perlu untuk konsistensi dan stabilitas kehidupan tetapi itu hanya alat yang terbatas, baik oleh jumlah, kualitas, dan kemampuan sumber daya manusia untuk menggunakannya. Jika alat yang baik dipakai secara salah oleh orang tak berhikmat, maka itu adalah sumber malapetaka.

Orang berhikmat membutuhkan alat tetapi tidak tergantung pada alat itu; orang berhikmat itu selalu menyelamatkan pada segala situasi dan tahu membaca situasi untuk mengambil keputusan yang tepat.

Kebijakan (keputusan yang ditetapkan seseorang atau diputuskan bersama) yang keliru adalah 'bijak salah' (=pelesetan) yang merusakkan banyak hal yang baik. Kehancuran biasanya berawal dari kebijakan kecil yang keliru lalu menjadi kebiasaan yang merusak.

Yakobus 4:17
Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.