10 Juli 2026

BERSIH DARI DALAM

Jumat, 10 Juli 2026
Renungan Pagi 

Matius 23:25-26
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.
Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.

BERSIH DARI DALAM

Manusia membutuhkan standar kebersihan sebagai proteksi kehidupan. Semua wadah untuk makan dan minum bersih supaya orang tetap sehat.

Tetapi pada sisi lain, bahan yang akan dimasukkan ke suatu wadah seharusnya bersih. Makanan tidak sehat yang dimakan dari wadah yang sehat tetap membuat sakit.

Bagian dalam yang kotor bukan soal bagian yang tidak dibersihkan tetapi diisi dengan makanan atau minuman yang salah. Bukan cawan yang kotor yang menajiskan (sakit rohani) tetapi hidup yang kotor yang menajiskan kehidupan.

Hidup yang dibersihkan dari luar dengan penampakan yang sesuai dengan budaya atau agama secara leterlek tetapi tidak diresapi dengan jiwa yang bersih tidak akan dapat membuat hidup ini bersih.

Jiwa yang bersih dari dalam akan membersihkan hidup ini yang oleh keterbatasannya dalam berbagai hal selalu terancam oleh kesalahan; tetapi semoga bukan dosa yang sengaja yang harus dibersihkan.

Mazmur 51:4
Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!

09 Juli 2026

MENYATAKAN TIDAK BERLAKU

Kamis, 9 Juli 2026
Renungan Pagi 3

Markus 7:13
"... Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan."

MENYATAKAN TIDAK BERLAKU

Latar belakang untuk penjelasannya adalah tentang anak yang diperbolehkan menelantarkan orangtuanya jika segala sumber daya untuk membiayai orangtua telah dipakai menjadi persembahan kepada Tuhan.

Firman Allah terkait hal ini adalah setiap orang harus menghargai (mengasihi dan memelihara) orangtuanya serta persembahkanlah yang terbaik kepada Tuhan.

Adat istiadat adalah hal yang biasa dilakukan dan menjadi semacam kewajiban yang tidak boleh dilanggar. Merawat orangtua itu tidak dihargai oleh para tokoh agama sebagai adat istiadat tetapi hanya sebagai kewajiban agama; sementara memberi persembahan diterima sebagai adat-istiadat sekaligus sebagai kewajiban agama.

Para pemuka agama melihat adat istiadat lebih tinggi dari kewajiban agama sebab ada keuntungan secara material di dalamnya. Demi adat-istiadat sebenarnya adalah teguran supaya orang tidak mementingkan keuntungan dalam melakukan perkara iman.

Perkara iman itu adalah perkara ketulusan hati untuk melakukan yang terbaik bagi Tuhan dan termasuk melalui sesama. Pementingan diri dalam bentuk pengejaran keuntungan itu membatalkan firman Allah dan menghilangkan kepedulian pada sesama; anak yang memelihara orangtuanya dengan baik walau tidak memberikan persembahan dalam bentuk fisik material atau uang sudah memberi persembahan yang terbaik kepada Tuhan.

Ibrani 10:22
Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.