02 Juli 2026

DUNIA MEMBENCI KAMU

Jumat, 3 Juli 2026
Renungan Pagi 

Yohanes 15:19
Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.

DUNIA MEMBENCI KAMU

Dunia adalah ciptaan Allah dan ada dalam pengaturan Allah tetapi menjadi rusak karena dosa manusia; terkutuklah tanah karena apa yang telah kau lakukan, dan lagi terkutuklah tanah yang menerima tumpahan dari adikmu.

Dunia cenderung untuk memberontak kepada Allah, bukan planet bumi yang dimaksud tetapi orang yang diam di atasnya yang mengikuti roh-roh yang ada di dunia ini yang berasal dari penguasa kegelapan.

Orang yang percaya kepada Yesus Kristus bukan milik dunia dengan roh-rohnya tetapi milik Allah yang bertentangan dengan roh-roh yang ada di dunia ini; dipilih dari dalam dunia.

Sebab itu manusia ada di dalam ukuran 'kebencian dunia' untuk mengetahui kualitas imannya. Semakin ia dibenci oleh dunia berarti semakin ia dekat dengan kasih Allah.

Dunia membenci kamu tidak akan memisahkan dari kasih Allah tetapi orang yang mengasihi dirinya sendiri di dunia, yang melakukan segala sesuatu menurut ukurannya sendiri, yang membesarkan dirinya bahkan merasa lebih hebat dari Tuhan adalah orang-orang yang menghilangkan kasih Tuhan dari dunia ini dan menanam bibit-bibit kebencian kepada milik Tuhan.

1 Korintus 15:34
Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu.

DASAR JIWA

DASAR JIWA

Hidup penuh dengan harapan dan tantangan; kenyataan yang ada dan kepuasan hidup.

Di balik suasana dingin oleh kekurangan, orang sering berpikir bahwa dia adalah segalanya dan orang yang ada di sekitarnya bahkan orang terdekat itu bukan apa-apa selain sebagai pribadi untuk dimiliki dan bukan untuk disayangi.

Kekasih yang paling diandalkan bukanlah mereka yang disayangi tetapi yang mampu memberikan sayang kepadamu bahkan lebih dari tuntutanmu.

Seorang musafir yang kehilangan arah mengetahui bahwa peta perjalanan yang dipegangnya adalah peta yang salah. Ia bermaksud menemukan peta yang sesungguhnya tetapi ia terlanjur mencintai peta yang salah itu. 

Dasar jiwanya berbisik dan mendengung dalam kebimbangan tentang arti hidup di dalam kasih dan tentang menyatakan kasih kepada semua orang.

Dasar jiwanya bahkan menemukan banyak jalan untuk ditempuh tetapi ia tidak mau mengambil jalan apa pun selain jalan yang telah dia lalui untuk diakhiri dengan baik.

Sesuatu di dasar jiwa selalu berbisik, "Tidak apa-apa, perjalanan memang tidak harus melihat akhirnya dari setiap titik di mana kamu berada dalam perjalanan ini."

Diam atau pergi, datang atau pasrah, memilih atau membiarkan proses menentukan segalanya tetaplah menjadi jalinan hidup yang pada akhirnya jauh di dasar jiwa adalah baik-baik saja.