Tampilkan postingan dengan label Ilustrasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilustrasi. Tampilkan semua postingan

14 Juli 2026

BERSYUKUR ATAS KEJADIAN YANG DAHSYAT

Bahan Cerita HUT PAR Boda-Boda: Mazmur 139:14

Mazmur 139:14 
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

BERSYUKUR ATAS KEJADIAN YANG DAHSYAT

Setiap orang itu kejadiannya dahsyat; lahir karena berkat dan kemurahan TUHAN.

Tidak ada yang bisa memilih untuk lahir sebagai anaknya seseorang; tidak bisa memilih Ayah atau Ibu. Juga tidak bisa memilih untuk lahir sebagai anak pertama, anak kedua dan seterusnya, pun tidak bisa memilih untuk jadi anak bungsu, bisa juga jadi anak tunggal; Tuhan yang mengizinkan untuk lahir dalam satu keluarga.

Karena itu untuk bersyukur kepada Tuhan atas kejadian yang dahsyat, maka setiap anak menyayangi Ayah, Ibu, dan saudara-saudaranya tetapi juga untuk menyayangi Tuhan.

Menyanyi:
satu-satu, aku sayang Ibu, dua-dua juga sayang Ayah, tiga-tiga sayang adik kakak; satu-dua-tiga: sayang semuanya.

Setiap anak PAR lahir sebagai anak yang sangat berharga, spesial. Anak-anak Tuhan sebaiknya selalu percaya diri bahwa ia mampu melakukan hal-hal yang baik sebab ia dibentuk secara khusus oleh Tuhan; ia sangat berharga di hadapan Tuhan.

Menyanyi:
BERANI TAMPIL BEDA

Bila iblis merayuku
Aku tolak itu dalam nama Yesus

Saat iblis menggodaku
Lalu ku berdoa dalam nama Yesus.

'Ku kuat karena kasih-Nya
Firman-Nya teguhkanku
Ku berdiri s'bagai pemenang
Aku berani tampil beda!


Setiap orang itu diciptakan luar biasa oleh Tuhan; manusia dibentuk dari seluruh bagian tubuh yang saling terkait satu dengan yang lain: Ada banyak sistem yang secara bersamaan terjadi dalam tubuh manusia setiap waktu; pada waktu makan saluran pencernaan terbuka dan pada waktu yang bersamaan ada pengaturan pada sistem yang lain dalam tubuh sehingga siostem itu tidak saling mengganggu; meski sering ada kecelakaan, namun atas penentuan Tuhan selalu ada jalan keluar dari persoalan hidup di dunia ini. Anak adalah ciptaan Tuhan yang dibuat secara luar biasa oleh Tuhan; karena itu anak-anak Tuhan juga harus mengerjakan hal-hal yang luar biasa.

Paling terakhir:
Anak Tuhan yang dibuat secara ajaib, spesial; yang luar biasa itu harusnya mampu selalu mengucap syukur kepada Tuhan yang melakukan kebaikan kepadanya; juga selalu berterima kasih kepada setiap orang yang berbuat baik kepadanya.

Hari ini kita bersyukur atas HUT PAR Klasis Boda-Boda yang ke-
Puji Tuhan untuk itu dan biarlah kemuliaan hanya bagi Tuhan yang kasihNya tidak berkesudahan.

Anak-Anak Tuhan akan terus diberkati untuk bertumbuh dalam iman kepada Kristus dalam doa dan pelayanan dari Kakak-Kakak Layan yang terus diberkati setiap hari oleh Tuhan.

------

24 November 2025

KAPAL DI TENGAH BADAI

KAPAL DI TENGAH BADAI

Sebuah perusahaan melakukan kegiatan di sebuah pulau dan pergi ke sana dengan menggunakan kapal sebagai alat transportasi.

Pegawai yang mengikuti kegiatan itu sebanyak sekitar dua puluh orang dan di antaranya ada lima orang pecaya.

Setelah selesai acara, mereka kembali dari kegiatan di pulau itu. Dalam perjalanan pulang, laut menjadi sangat berombak besar sehingga kapal terangkat dan tercampak dengan sangat.

Dua orang teman dari orang-orang percaya yang ada di atas kapal itu tidak merasa takut dengan keadaan yang terjadi bahkan salah seorang di antara mereka seperti sangat menikmati keadaan itu laksana anak yang menikmati suasana bermain ayunan. Setiap kali ombak mengangkat dan menghentakkan perahu itu, akan sangat bergirang berkata: "Waw..... enaknya!" Teman yang satunya memang tidak takut tetapi ia tidak sampai menikmati keadaan itu sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Bagaimana dengan ketiga orang percaya lainnya? Mereka tidak diceritakan oleh orang yang menceritakan kejadian ini, sebab mereka adalah teman kerja tetapi tidak ada hubungan emosional karena keakraban di antara mereka.

Situasi ini kemudian menggangu pikiran seorang ibu yang tidak sekeyakinan dengan mereka, yang kemudian menegurnya: "Nak, mengapa engkau senang? Sadarlah bahwa kita sedang terancam bahaya. Seharusnya berdoalah supaya semuanya dapat terkendali dan tidak ada  korban."

Teman yang tadinya bersukacita menikmati kapal yang diayunkan oleh ombak menjawab: "Bagi kami, berdoa itu sebelum naik kapal, dan bukan nanti setelah kapal terancam bahaya."

Syukur kapal boleh sampai ke dermaga dengan selamat dan penghuni kapal sudah belajar bahwa sukacita itu dijaminkan dalam jiwa yang telah berdoa dan selalu mengandalkan Tuhan di dalam kehidupannya.

1 Tesalonika 5:17
Tetaplah berdoa. 

05 Juli 2025

Kisah Penjual Obat Keliling

KISAH SI PENJUAL OBAT KELILING

Seorang penjual obat keliling sudah bertahun-tahun berjualan di desa-desa. Usahanya sederhana, hasilnya pas-pasan, tapi ia dikenal jujur.

Suatu hari, ia bertemu seorang pria asing yang menawarkan kerja sama. Pria itu berkata, "Kalau kau mau menjual ramuan ini, kau bisa untung tiga kali lipat. Katakan saja ini obat segala penyakit."

Penjual itu ragu. Ia tahu ramuan itu belum jelas khasiatnya. Tapi tawaran itu menggiurkan. Ia membayangkan motor baru, rumah yang dicat ulang, anak-anaknya bisa sekolah lebih tinggi.

Keesokan pagi, ia mulai berkeliling dengan botol-botol ramuan di keranjang sepedanya. Di setiap rumah, ia mengulang kalimat yang sama, "Obat ini mujarab. Semua yang minum akan sembuh."

Beberapa minggu pertama, uangnya mengalir deras. Ia merasa langkahnya tepat. Namun suatu hari, seorang ibu datang mengetuk pintu rumahnya dengan wajah cemas. "Suami saya tambah sakit setelah minum obat itu," katanya.

Tak lama, kabar menyebar. Orang-orang mulai curiga. Beberapa pasien mengeluh kondisinya tidak membaik. Satu per satu pelanggan berhenti membeli.

Penjual itu duduk memandangi botol-botol yang menumpuk. Dulu ia bangga pada kejujurannya, kini ia hanya punya reputasi buruk dan rasa bersalah.

Banyak orang tergoda memilih jalan pintas untuk cepat berhasil: menjual janji palsu, memanipulasi kepercayaan, atau mengambil cara curang demi keuntungan sesaat. Padahal, keberhasilan yang dibangun di atas kebohongan hanya menunggu waktu untuk runtuh.

Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk bekerja keras, tetapi juga bekerja jujur. Reputasi baik dan hati nurani yang bersih jauh lebih bernilai daripada keuntungan besar yang diperoleh secara tidak benar.

Hari ini, bila ada peluang yang tampak menggiurkan namun tidak sesuai kebenaran, ingatlah: Tuhan yang memelihara kita setia, tidak pernah menuntut kita mengorbankan integritas demi kesuksesan.

Mari memilih jalan yang lurus, meski lebih lambat, karena di sanalah damai dan berkat Tuhan tinggal.

"Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman." (Amsal 28:20)

-----

Sumber:
Copy paste dari aplikasi:
Renungan dan Ilustrasi Kristen ~ Kamis, 5 Juli 2025

04 Juli 2025

Atap yang Bocor

ATAP YANG BOCOR 

Di sebuah rumah sederhana, sepasang kakak-beradik tinggal bersama. Musim hujan datang lebih awal tahun itu. Suatu malam, si adik melihat langit-langit kamarnya meneteskan air. Bocor kecil.

Ia bilang pada kakaknya, "Kita harus betulkan ini." Tapi si kakak menjawab, "Nanti saja. Toh cuma netes. Kita tunggu hujan reda dulu."

Hari-hari berlalu. Tetes itu makin deras. Lalu muncullah bercak cokelat di dinding. Tapi tetap tak ada yang bergerak. Bukan karena tidak bisa, tapi karena tidak enak hati menegur lagi. Takut dibilang bawel, takut memperkeruh suasana.

Beberapa minggu kemudian, atap benar-benar runtuh. Malam itu hujan deras, dan air mengguyur habis isi kamar si adik. Kasur basah. Buku-buku rusak. Listrik korslet.

Setelah semuanya berlalu, si adik hanya berkata, "Aku dulu sudah bilang…"

Dan si kakak menunduk, menyesal. Bukan karena bocor itu tak terlihat. Tapi karena mereka membiarkannya --demi menghindari konflik kecil… dan akhirnya menghadapi kerusakan besar.

Banyak orang memilih diam bukan karena tidak peduli, tapi karena tidak ingin memperkeruh keadaan. Kita pikir, "Kalau aku bicara, nanti malah jadi ribut." Maka kita tahan mulut kita, biarkan masalah kecil berjalan dengan harapan akan selesai sendiri.

Tapi seperti di dalam cerita, membiarkan kebocoran kecil tanpa tindakan bukan menjaga damai, tapi menunda kerusakan. Dan kerusakan itu bisa lebih besar dari keberanian yang dibutuhkan untuk menegur dengan kasih.

Tuhan tidak memanggil kita untuk jadi pengamat pasif atas kerusakan kecil dalam hidup, keluarga, pelayanan, atau sesama kita. Ia mengajar kita untuk bicara dalam kasih, bertindak dalam tanggung jawab, dan menegur dalam roh yang benar.

Damai sejati bukan berarti tak ada suara. Damai sejati adalah keberanian untuk berkata benar dengan kasih, sebelum semuanya runtuh karena terlalu lama dibiarkan.
----
Sumber:
Copy paste dari aplikasi: Renungan dan Ilustrasi Kristen; 24 Juni 2025

ANAK KUCING BEREBUTAN DAGING

ANAK KUCING BEREBUTAN DAGING

Ada sebuah keluarga yang memelihara kucing yang mempunyai tiga ekor anak kucing. Keluarga ini bermain dengan kucing-kucing itu setiap hari.

Suatu hari seorang anggota keluarga membuang sepotong daging kepada seekor anak kucing yang kelihatan sedang sendirian. Ketika daging itu dibuangkan ke arah anak kucing, ia memakannya. Tidak lama datanglah seekor anak kucing yang lain dan mereka harus berebut untuk makan daging.

Kakak beradik memberi penilaian. Sang kakak berkata: ”Ah... Kerjanya hanya bisa merebut milik yang lain saja.”; kesalahan pada kucing yang datang kemudian. Tidak lama adik yang juga melihat itu berkata: ”Eh... Dasar pelit, biar berbagi makan sama saudara saja susahnya minta ampun.” Mana penilaian yang benar? Perlu berbagai analisis untuk menjawabnya sebab itulah manusia butuh kajian mendalam sebelum memutuskan tetapi sering kajiannya yang justru memperrumit masalah.

Anak kucing berebut daging itu naluriah alamiah dadi insting binatang tetapi umat Tuhan yang berebut apa saja adalah umat yang tidak hidup dalam kasih Tuhan.

Amsal 19:17
Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.

Pedagang Beras yang Tidak Jujur

PEDAGANG BERAS YANG TIDAK JUJUR 

Seorang pedagang beras di sebuah pasar mulai kehilangan sebagian pelanggan. Di seberang gang, lapak baru dibuka oleh pedagang grosir yang membawa beras dari lumbung sendiri, sehingga bisa menjual lebih murah.

Setiap hari, ia menatap tumpukan karung berasnya yang tak laku, sementara keluarga di rumah menunggu penghasilan. Malam-malamnya dihabiskan dengan gelisah, memikirkan utang yang belum lunas.

Suatu malam, ia duduk lama menatap timbangan kuning miliknya. Dalam hati ia berbisik, "Kalau sedikit saja kupotong timbangannya, orang tak akan tahu. Aku hanya ambil sedikit… demi anak istriku."

Keesokan harinya, ia mengganjal jarum timbangan dengan potongan kawat kecil. Tidak banyak, hanya membuat setiap kilo beras berkurang beberapa ons. Pembeli berdatangan lagi. Dagangannya mulai habis satu per satu. Setiap kali menimbang, hatinya berdebar, tapi ia menenangkan diri, "Semua pedagang pasti begitu."

Minggu demi minggu berlalu. Ia berhasil melunasi beberapa utang. Bahkan punya cukup uang untuk mengecat lapaknya. Orang-orang memuji, "Hebat ya, sekarang daganganmu laris!" Ia hanya tersenyum, pura-pura lega.

Suatu hari, seorang ibu tua datang membeli beras. Saat pulang, karungnya jatuh di depan banyak orang. Seorang tetangga yang paham ukuran membantu memungut dan menimbang ulang di lapaknya sendiri. Semua orang terdiam, beratnya tak sesuai.

Kabar itu menyebar cepat. Esok paginya, tak satu pun pelanggan datang. Ia duduk sendirian di lapaknya yang sepi, menatap timbangan yang kini terasa lebih berat daripada karung mana pun.

Saat itu ia mengerti, keuntungan yang diperoleh dengan kecurangan hanya akan menghasilkan malu yang lebih dalam dari kelaparan.

Kita semua pernah merasa terdesak. Tekanan ekonomi, persaingan yang keras, atau ketakutan akan kegagalan bisa membuat kita tergoda mengambil jalan pintas: menipu sedikit, memanipulasi data, memanfaatkan ketidaktahuan orang lain.

Awalnya tampak sepele. Apalagi kalau hasilnya langsung terasa: utang lunas, dagangan laku, citra kita kembali baik di mata orang. Tapi cepat atau lambat, kebenaran akan terbuka. Dan saat itu terjadi, rasa malu lebih menyakitkan daripada kesulitan yang ingin kita hindari.

Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tetapi bagaimana kita melakukannya. Dia lebih menghargai hati yang jujur dan berserah daripada keberhasilan yang diperoleh dengan cara licik.

Kalau hari ini kita tergoda untuk memiringkan timbangan --apa pun bentuknya-- ingatlah: keuntungan yang lahir dari kebohongan tidak akan pernah membawa damai. Karena kehormatan sejati dibangun bukan dari kelimpahan, tetapi dari ketulusan.

"Neraca serong adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat." (Amsal 11:1)

-----

Sumber: Copy paste dari Aplikasi Renungan dan Ilustrasi Kristen; 30 Juni 2025

Tetangga yang Iri Hati

TETANGGA YANG IRI HATI 

Di sebuah perkampungan, dua keluarga hidup berdampingan. Salah satunya baru saja membuka usaha katering kecil. Pesanan makin hari makin banyak. Mobil pengantar makanan datang silih berganti.

Tetangga sebelah hanya mengamati dari balik jendela. Hatinya mulai gelisah. "Dulu kita sama-sama susah. Sekarang dia bisa membeli motor baru, bisa renovasi rumah. Kenapa bukan aku?"

Setiap pagi, ia pura-pura tersenyum saat berpapasan. Tapi begitu pintu rumahnya tertutup, ia mencibir, "Pasti dia curang. Mana mungkin cepat kaya."

Suatu malam, ia menulis pesan tanpa nama. Kertas itu berisi tuduhan bahwa usaha katering tetangganya memakai bahan kadaluwarsa. Ia selipkan di pagar rumah tetangganya.

Pagi harinya, kabar itu menyebar. Beberapa pelanggan membatalkan pesanan. Pemilik usaha katering menangis di dapur, bingung bagaimana membuktikan semua tuduhan itu tidak benar.

Namun seorang pelanggan setia bersikeras datang melihat sendiri dapur mereka. Setelah memeriksa, ia berkata lantang di depan warga yang berkumpul, "Semua bersih. Ini fitnah."

Saat orang-orang membela pemilik katering, pandangan mulai beralih ke rumah tetangga yang menutup rapat jendelanya. Beberapa warga ingat siapa yang sering mengeluh iri.

Malam itu, tetangga itu duduk sendiri di ruang tamu yang gelap. Ia sadar: tak ada kebahagiaan yang datang dari iri hati, hanya rasa malu dan kehilangan kepercayaan orang lain.

Iri hati jarang muncul tiba-tiba. Ia mulai pelan... dari membandingkan diri, lalu meremehkan keberhasilan orang lain. Lama-lama, hati menjadi gelisah, ucapan menjadi sinis, dan akhirnya mendorong tindakan yang merugikan sesama.

Firman Tuhan tidak pernah menganggap enteng iri hati. Iri hati mengikis sukacita, merusak relasi, dan membuat kita lupa pada berkat yang sudah kita terima. Bahkan, kita rela menuduh dan memfitnah demi menutupi rasa rendah diri.

Tuhan ingin kita bersyukur atas apa yang kita punya, bukan sibuk mencurigai atau menjatuhkan orang lain. Ketika kita belajar ikut bersukacita atas keberhasilan sesama, hati kita akan lebih ringan, damai, dan penuh sukacita yang tulus.

Hari ini, mari minta pertolongan Tuhan untuk menyingkirkan iri hati. Karena kebahagiaan sejati tidak pernah lahir dari membandingkan diri, tetapi dari hati yang bisa mengucap syukur apa adanya.

"Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang." (Amsal 14:30)

---
Sumber: Copy paste dari Aplikasi Renungan dan Ilustrasi Kristen; 3 Juli 2025

Kisah Si Pemuda Penjaga Toko kelintong

KISAH SI PEMUDA PENJAGA TOKO KELONTONG

Seorang pemuda bekerja sebagai penjaga toko kelontong di sudut kota. Ia digaji tidak seberapa, padahal ia harus membantu biaya sekolah adiknya.

Setiap malam, pemilik toko pulang lebih dulu, meninggalkannya sendirian untuk membereskan barang. Lama-lama, ia mulai tergoda. "Kalau cuma satu-dua bungkus mie instan, pasti tak ketahuan," pikirnya.

Malam pertama, ia mengambil satu bungkus. Keesokan hari, tak ada yang curiga. Malam kedua, ia mengambil dua bungkus roti. Beberapa minggu kemudian, ia sudah terbiasa mencuri sedikit-sedikit. Ia merasa pintar; lapar adiknya teratasi, dan bosnya tetap percaya.

Suatu malam, pemilik toko tiba-tiba kembali lebih awal. Ia berdiri diam di ambang pintu, menyaksikan pemuda itu menyelipkan barang ke dalam tas.

Pemuda itu tertegun. Tangannya gemetar. Wajah pemilik toko tidak marah, hanya sedih. Dengan suara pelan, ia berkata, "Kalau kau bilang butuh, aku pasti membantu. Tapi mencuri… itulah yang membuat aku kehilangan kepercayaan."

Pemuda itu menunduk, merasa malu lebih berat daripada kemiskinan.

Malam itu ia pulang tanpa membawa apa pun, kecuali penyesalan yang akan ia ingat seumur hidup.

Dalam tekanan hidup, kita sering tergoda untuk menyiasati keadaan. Kita merasa punya alasan yang "masuk akal" untuk berlaku curang: demi keluarga, demi kebutuhan mendesak, demi bertahan hidup. Tapi alasan tidak pernah bisa mengubah salah menjadi benar.

Tuhan tidak mencari orang yang licik tapi sukses. Ia mencari hati yang bersih dan tangan yang tidak mengambil milik orang lain. Bahkan ketika orang lain tidak melihat, Tuhan melihat.

Lebih baik hidup sederhana dengan hati yang jujur, daripada berhasil karena kebohongan dan kehilangan kepercayaan. Sebab sekali kepercayaan rusak, sulit untuk dipulihkan.

Mari belajar percaya bahwa Tuhan sanggup memelihara hidup kita tanpa perlu mencuri sedikit pun dari yang bukan hak kita.

"Orang yang melakukan tipu daya tidak akan diam di dalam rumahku, orang yang berbicara dusta tidak akan tegak di depan mataku." (Mazmur 101:7)

Sumber: 

Copy paste dari Aplikasi Renungan dan Ilustrasi Kristen; 1 Juli 2025

Sopir yang Mengantuk

SOPIR YANG MENGANTUK

Seorang sopir truk bekerja keras demi keluarganya. Malam itu, ia memaksakan diri mengantar muatan terakhir walau sudah dua malam kurang tidur.

Matanya berat. Berkali-kali ia menepuk pipinya sendiri agar tetap terjaga. Di pikirannya hanya satu hal: "Kalau aku pulang cepat, besok bisa cari muatan lain."

Saat truk melaju di jalan sepi, kelopak matanya tertutup beberapa detik. Roda truk oleng ke bahu jalan. Ia terkejut dan segera menarik setir. Ban depan menghantam batu besar di pinggir aspal, membuat muatan beras di bak belakang terguling.

Truk berhenti dengan bunyi dentuman keras. Badannya gemetar. Untung tak ada kendaraan lain yang melintas. Ia turun menatap karung-karung sobek berserakan di tanah. Kerugian yang harus ia ganti lebih besar dari upah seminggu.

Malam itu, ia duduk di pinggir jalan, menyesali satu keputusan sederhana: memaksakan diri ketika tubuh sudah tak sanggup.

Dan ia berjanji, seberapa pun berat hidup, ia tidak akan lagi mengorbankan keselamatan demi mengejar uang lebih cepat.

Sering kita berpikir: semakin banyak yang kita kejar, semakin cepat semua masalah selesai. Kita memaksakan diri melewati batas tenaga, lupa bahwa tubuh ini terbatas dan keselamatan bukan hal sepele.

Tuhan memberi kita akal sehat untuk tahu kapan harus berhenti dan beristirahat. Bekerja keras itu baik, tapi memaksakan diri sampai membahayakan diri sendiri atau orang lain bukanlah tanda iman; itu tanda kesombongan yang tidak mau mengakui kelemahan.

Hidup bukan hanya soal seberapa cepat kita sampai di tujuan. Tapi juga bagaimana kita menjaga diri, keluarga, dan orang lain dalam perjalanan.

Hari ini, mari belajar bijak. Berjaga-jaga bukan hanya soal rohani, tapi juga soal kesadaran merawat tubuh yang Tuhan titipkan. Karena hidup yang dilindungi adalah berkat, dan ketaatan kecil seperti istirahat pada waktunya adalah wujud penghormatan kepada Dia yang memelihara kita.

"Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya." (Matius 25:13)

Sumber:

Copy paste dari Aplikasi Renungan dan Ilustrasi Kristen; 2 Juli 2025

25 Januari 2025

SANG WANITA BIJAKSANA DAN RUMAH DI BUKIT

Sang Wanita Bijaksana dan Rumah di Bukit


Di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh bukit hijau, hiduplah seorang wanita bernama Rania. Ia dikenal sebagai wanita paling bijaksana di seluruh wilayah. Rania tinggal di sebuah rumah besar di atas bukit, yang pintu-pintunya selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin datang untuk belajar. Di depan rumahnya, ada sebuah pohon besar dengan ayunan, tempat anak-anak sering duduk mendengarkan nasihatnya.

Rania tidak hanya cerdas, tetapi juga penuh kasih. Setiap pagi, ia menyiapkan jamuan di meja panjang di halaman rumahnya. Ia mengundang siapa pun yang lewat untuk duduk, makan, dan mendengarkan petuah-petuahnya. Namun, tak jauh dari sana, di lembah yang gelap, ada seorang wanita bernama Lila. Berbeda dengan Rania, Lila dikenal sebagai wanita yang menggoda orang-orang dengan janji-janji palsu. Ia mengajak orang untuk menikmati kesenangan sesaat, tetapi ujungnya selalu membawa kehancuran.

Suatu hari, seorang pemuda bernama Arkan, yang sedang mencari arah hidupnya, berjalan melewati kedua tempat tersebut. Di bawah bukit, Rania berdiri di depan pintu rumahnya dan berkata, “Datanglah, Arkan. Di sini ada jamuan bagi jiwa dan pikiranmu. Aku akan membimbingmu menuju jalan yang membawa kehidupan dan damai.”

Namun, sebelum Arkan sempat melangkah, ia mendengar suara lembut dari lembah. “Mengapa kau harus bersusah payah mendaki bukit itu?” kata Lila dengan senyuman manis. “Datanglah ke tempatku. Aku punya segala kesenangan yang kau inginkan. Tidak perlu belajar, tidak perlu berpikir—hanya nikmati hidup.”

Arkan ragu. Ia melihat jalan menuju rumah Rania yang menanjak dan tampak berat, tetapi penuh harapan. Sedangkan lembah Lila terlihat mudah dijangkau, penuh dengan suara tawa dan musik. Akhirnya, ia memutuskan untuk mendengarkan keduanya sebelum memilih.

Ketika ia duduk di meja Rania, ia mendengar cerita-cerita tentang kehidupan yang bermakna, tentang bagaimana pilihan yang benar kadang sulit tetapi membawa kebahagiaan sejati. Rania memberinya kitab kecil yang berisi kebijaksanaan dan berkata, “Ini adalah panduanmu untuk memilih jalan hidup yang benar. Bacalah, dan engkau akan menemukan terang di tengah kegelapan.”

Di sisi lain, ketika ia pergi ke lembah Lila, ia disambut dengan pesta besar dan kebisingan. Lila berkata, “Lupakan semua yang kau dengar dari Rania. Hidup ini singkat, jadi nikmatilah. Tidak ada yang perlu dipikirkan selain kesenanganmu sekarang.”

Arkan terdiam. Ia membuka kitab kecil yang diberikan Rania dan membaca satu kalimat yang berbunyi, “Ada jalan yang tampaknya lurus bagi manusia, tetapi ujungnya menuju kehancuran.” Ia melihat sekeliling dan menyadari bahwa lembah Lila penuh dengan orang-orang yang tampak bahagia di luar, tetapi kosong di dalam.

Dengan mantap, Arkan meninggalkan lembah dan kembali ke rumah Rania di bukit. Di sana, ia memutuskan untuk tinggal dan belajar, menemukan makna hidup yang sejati.

Pesan moral: Seperti dalam Amsal 9, kehidupan sering menawarkan dua jalan—jalan hikmat dan jalan kebodohan. Meskipun jalan hikmat mungkin tampak lebih sulit, hasilnya adalah kehidupan yang penuh damai dan berkat. Sedangkan jalan kebodohan mungkin menggoda, tetapi berujung pada kehancuran.

Copy Paste

18 November 2024

BELAJAR DARI JAM DINDING

BELAJAR DARI JAM DINDING

Jam dinding yang baik adalah jam dinding yang ketika diberi kekuatan dengan mengisi baterai pada catudayanya, maka dia akan berputar dari detik ke detik berikutnya, menit, jam, hari, minggu, sampai beberapa bulan selama baterai itu masih kuat.

Ia terus melakukan tugasnya dengan setia, meski tidak dilihat, tidak ada yang mengucapkan terima kasih; ia terus berputar dan berputar tanpa mengharapkan apa pun dari orang-orang yang ada di sekitarnya.

Manusia sering tidak berputar pada tugasnya karena ada yang tidak menghargainya. Manusia sering berputar hanya demi 'terima kasih'.

Catudaya manusia untuk bisa berputar dari waktu ke waktu adalah kasihnya kepada kehidupan; Tuhan adalah kekuatan untuk terus setia dan tulus berputar di dalam dan demi kehidupan.

KASIH EMPAT BERSAUDARA KEPADA IBUNYA

KASIH EMPAT BERSAUDARA KEPADA IBUNYA

Ada seorang ibu dengan empat orang anaknya. Suatu waktu anak-anaknya berbicara tentang kasihnya yang besar kepada ibu mereka.

Anak pertama berkata bahwa ia yang paling lama hidup bersama dengan ibu, maka dialah yang paling mengasihi ibu mereka.

Anak kedua berkata, sayalah yang paling mengasihi ibu sebab sayalah satu-satunya anak perempuan yang dilahirkan ibu.

Anak ketiga berkata bahwa ia mengasihi ibunya dan akan melindungi ibu setiap waktu.

Anak bungsu berkata bahwa meskipun ia yang paling kecil tetapi ia bersedia melakukan yang terbaik kepada ibunya sebab ia tahu bahwa ibunya sangat mengasihinya; lalu ia mengulurkan tangannya dan memberi ibunya pelukan.

Ibu itu sangat bersukacita sebab anak-anaknya mengasihinya. Anak-anaknya bahkan selalu berupaya untuk membanggakan diri bahwa dialah yang paling mengasihi ibunya. 

Suatu hari ada surat yang harus diantarkan ke kantor pos yang tidak jauh dari rumah mereka.
Ibu bertanya siapakah di antara mereka yang akan membantu ibu untuk mengantarkan surat itu ke kantor pos?

Anak pertama berkata bahwa ia harus mengerjakan PR; anak kedua mengatakan bahwa urusan itu seharusnya dikerjakan oleh anak laki-laki; anak ketiga mengatakan bahwa ia malas untuk pergi karena sebentar lagi akan turun hujan.

Ibu melihat anak bungsunya sedang bersiap-siap, memakai mantel dan meminta surat itu kepada ibunya. Ibu bertanya: "Engkau tidak takut pada hujan yang akan turun?" "Tidak, Mama. Saya tidak takut sebab saya mengasihi ibu."

Kasih itu bukan hanya untuk dikatakan tetapi untuk dilakukan.

Dengar pada suatu kesempatan.