KUDA SIMBOL PEMIMPIN
Foto dalam ini diambil ketika melakukan tugas pelayanan di GTM Jemaat Tongkonan Layukna Puang Matua di desa Tondok Bakaru, kecamatan Mamasa pada Maret 2026.
Dalam kehidupan masyarakat Kondo Sapata', kesatuan budaya --tepatnya sosial kemasyarakatan-- dan kesatuan politik pada zaman dahulu, pada setiap tempat ada hiasan pada tiang penyanggah (tulak somba') di depan rumah adat dan lumbung atau pada bagian depan pada langit-langit lumbung biasanya adalah kerbau sebagai simbol kehidupan yang makmur; hidup dalam damai sejahtera jika dikaitkan dengan bahasa yang lebih memuat tendensi rohani.
Di tempat ini yang adalah wilayah Rambu Saratu', selain kerbau juga ada kuda sebagai simbol status pemimpin. Pada zaman dahulu hanya pemimpin yang naik kuda.
Selain itu, ada kemungkinan kecil bahwa sesungguhnya binatang dalam hiasan budaya ini adalah ular terbang yang menyala sebab pada leher makhluk itu yang dipakai bukanlah garis-garis lurus untuk menggambarkan bulu berjumbai pada tengkuk kuda tetapi bentuk-bentuk seperti sisik pada ular. Demikian juga terlihat gigi yang runcing di ujung mulut dari makhluk itu yang lebih menggambarkan gigi ular dari pada gigi kuda.
Passan Padang, sosok ular menyala yang terbang pada malam hari, yang biasa disebutkan sebagai millele o mi Passan Padang dipahami sebagai pertanda baik, terutama hasil panen padi yang akan berlipat.
Kemungkinan terakhir ini kecil sebab itu bisa terjadi karena masih kasarnya pengungkapan seni pada zaman ketika itu dibuat yang sekaligus menggambarkan bahwa ini sudah lama ada.
Apakah ada maksud penggabungan dua lambang budaya dalam karya seni ini?
Semakin lama itu akan semakin menjadi pertanyaan yang semakin hilang ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar