24 November 2025

KAPAL DI TENGAH BADAI

KAPAL DI TENGAH BADAI

Sebuah perusahaan melakukan kegiatan di sebuah pulau dan pergi ke sana dengan menggunakan kapal sebagai alat transportasi.

Pegawai yang mengikuti kegiatan itu sebanyak sekitar dua puluh orang dan di antaranya ada lima orang pecaya.

Setelah selesai acara, mereka kembali dari kegiatan di pulau itu. Dalam perjalanan pulang, laut menjadi sangat berombak besar sehingga kapal terangkat dan tercampak dengan sangat.

Dua orang teman dari orang-orang percaya yang ada di atas kapal itu tidak merasa takut dengan keadaan yang terjadi bahkan salah seorang di antara mereka seperti sangat menikmati keadaan itu laksana anak yang menikmati suasana bermain ayunan. Setiap kali ombak mengangkat dan menghentakkan perahu itu, akan sangat bergirang berkata: "Waw..... enaknya!" Teman yang satunya memang tidak takut tetapi ia tidak sampai menikmati keadaan itu sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Bagaimana dengan ketiga orang percaya lainnya? Mereka tidak diceritakan oleh orang yang menceritakan kejadian ini, sebab mereka adalah teman kerja tetapi tidak ada hubungan emosional karena keakraban di antara mereka.

Situasi ini kemudian menggangu pikiran seorang ibu yang tidak sekeyakinan dengan mereka, yang kemudian menegurnya: "Nak, mengapa engkau senang? Sadarlah bahwa kita sedang terancam bahaya. Seharusnya berdoalah supaya semuanya dapat terkendali dan tidak ada  korban."

Teman yang tadinya bersukacita menikmati kapal yang diayunkan oleh ombak menjawab: "Bagi kami, berdoa itu sebelum naik kapal, dan bukan nanti setelah kapal terancam bahaya."

Syukur kapal boleh sampai ke dermaga dengan selamat dan penghuni kapal sudah belajar bahwa sukacita itu dijaminkan dalam jiwa yang telah berdoa dan selalu mengandalkan Tuhan di dalam kehidupannya.

1 Tesalonika 5:17
Tetaplah berdoa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 Dilihat