19 Februari 2014

Diutus Seperti Anak Domba ke Tengah-Tengah Serigala

Diutus Seperti Anak Domba ke Tengah-Tengah Serigala

Pdt. Bangaran Pasamboan, S.Th.

Ayat ini terdapat dalam perikop pengutusan tujuh puluh (70) murid untuk mendahului Yesus ke daerah-daerah yang akan dilalui Yesus dalam pewartaan Injil Kerajaan Allah. Murid-murid itu diberi tugas supaya banyak orang yang turut menuai di ladang Sang Pemilik tuaian sebab yang bekerja baru sedikit saja sementara tuaian sangat banyak. (Lukas 10:1-12)
Tugas pengutusan para murid adalah mencari orang yang akan turut bekerja untuk mengabarkan Injil Kerajaan Allah.

Diutus seperti anak domba ke tengah-tengah serigala menggambarkan situasi pelaksanaan tugas pengutusan para murid yang sulit. Kesulitan itu bahkan bisa berakibat nyawa melayang sebab serigala adalah hewan buas -- pemangsa dan anak domba hanyalah domba yang belum berpengalaman mengatasi bahaya termasuk menghadapi serigala. Seandainya saja bahwa yang diutus itu adalah domba (bukan anak domba) seperti yang tertulis dalam Matius 10:16, maka mungkin ia sudah tahu caranya menghadapi bahaya termasuk dari terkaman serigala tetapi pada akhirnya tetap harus disimpulkan bahwa medan tugas pengutusan itu sangat berat sebab domba berpengalaman sekalipun tetap tidak akan berdaya pada situasi berada di tengah-tengah serigala.
Ada beberapa kemungkinan yang bisa dibayangkan supaya tugas pengutusan ini berhasil, antara lain:
  1. Domba menjadi sama seperti serigala.
  2. Menciptakan situasi dimana serigala tetap serigala tetapi dapat menerima domba.
  3. Mengupayakan supaya serigala menjadi domba.
Barangkali ada kemungkinan lain yang bisa dipikirkan oleh kita dan ada orang yang bisa melihat kemungkinan yang telah didaftarkan sebagai urutan praktis dalam pencapaian tujuan pekabaran Injil Kerajaan Allah tetapi dalam hemat saya bahwa perhatian kita adalah pada nomor tiga dan tidak melalui tahapan pertama dan kedua sebab pastilah bahwa itu akan mengakibatkan resiko tersendiri dalam pemberitaan Injil Kerajaan Allah.
Bagaimana memahami ayat ini dalam dunia sekarang ketika gereja berkiprah untuk melaksanakan 'tri panggilan gereja', bersekutu (koinonia), bersaksi (marturia), melayani (diakonia)?

Apakah gereja masih tetap seperti anak domba dan medan pengutusannya tetap ke tengah-tengah serigala? Tidak dan Ya.
Pertama, 'tidak'. Banyak hal yang memungkinkan untuk menyimpulkan bahwa gereja tidak lagi seperti anak domba dan medan pengutusan juga sudah tidak seperti ke tengah-tengah serigala sebab manusia sudah pada umumnya belajar untuk saling menghargai; bahasa orang pintar menyebutnya toleransi. Demikian juga kekristenan sudah tidak asing lagi bagi dunia, bahkan ada daerah-daerah tertentu di dunia ini yang penduduknya adalah mayoritas Kristen. Dunia yang di dalamnya kekristenan diberitakan, adalah dunia yang berbeda dari dunia ketika Yesus baru datang untuk memberitakan Kerajaan Allah; seorang ibu -- Penatua Erni Suryanti - 16 Pebruari 2014 di jemaat Filadelfia Sikuku -- dalam khotbahnya mengatakan bahwa pada masa pelayanan Tuhan Yesus, masih banyak orang yang diceritakan kerasukan setan yang menyebabkan berbagai penyakit sementara dunia sekarang tidak lagi banyak kasus yang sama ditemukan di dunia ini. Ini berarti bahwa tantangan dalam tugas pemberitaan hal Kerajaan Surga tidak lagi mengalami tantangan yang berat. Pada Sisi sebaliknya, para pemberita juga biasanya adalah mereka yang benar-benar telah dilatih dengan keahlian khusus sehingga mereka bisa memikirkan cara mencapai tujuan pengutusan mereka secara sistematis; yang diutus dengan kemampuan terbatas pun dapat mengembangkan diri pada berbagai kesempatan bahkan bisa mengembangkan diri secara mandiri dengan tersedianya banyak media yang bisa digunakan untuk itu. Seperti anak domba adalah sebuah keadaan yang bisa diubah dan hanya yang tidak mau berubah dengan mengembangkan diri yang tetap seperti seperti anak domba.

Kita telah melihat bahwa dunia bukan lagi serigala dan mereka yang bekerja sebagai pekabar Injil tentang kerajaan Allah tidak lagi seperti anak domba tetapi itu hanya pada lapisan kesadaran dan kondisi di atas kertas. Karena itu, hal berikut yang akan kita bahas adalah jawaban ya atas pertanyaan apakah pekabar injil tetap seperti anak domba dan medan pemberitaan Injil Kerajaan Allah tetap seumpama kerumunan singa. Hal pertama yang akan kita bahas sebagai yang menjadi serigala dalam pemberitaan Injil Kerajaan Allah sekarang adalah banyaknya 'warna Kerajaan Allah' yang dipegang oleh para murid yang berkelompok-keompok itu sebagai kebenaran mutlak tentang Injil Kerajaan Allah.

Satu penyebab tidak tercapainya misi pewartaan Kerajaan Allah adalah perbedaan pandangan iman (~ teologis ~) orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus mengenai baptisan, misalnya. Golongan tertentu menetapkan bahwa hanya orang yang dibaptis selam yang selamat sebab Yesus pun dibaptis selam, meski tidak jelas dalam Alkitab bahwa Yesus memang dibaptis selam. Aliran yang lain mengatakan bukan caranya yang penting tetapi pemaknaannya sebagai penerimaan materai keselamatan dan tertulisnya nama orang yang dibaptis dalam daftar buku kehidupan di hadapan hadirat Allah di sorga dan dengan demikian mereka membuat menjadi aturan dalam gereja bahwa orang yang menerima baptisan dua kali adalah orang yang melakukan 'pelanggaran'. Biasanya, orang yang dibaptis dua kali (bahkan ada yang lebih dari itu) adalah mereka yang telah menerima baptisan percik pada waktu masih kecil dalam gereja pada aliran kedua dari pemahaman gereja tentang baptisan yang telah dibahas sebelumnya dan kemudian berkenalan dengan gereja dari aliran pertama lalu percaya bahwa orang tidak selamat kalau tidak dibaptis selam dan memberi diri lagi untuk dibaptis dengan cara diselam. Gereja dari aliran pertama bersukacita untuk jiwa yang diselamatkan melalui baptisan itu dan gereja aliran kedua bertanya-tanya tentang materai mana yang akan dipakainya kelak ketika ia kembali ke hadirat 'Sang Pemberi Keselamatan'.
Mengenai baptisan ulang, dalam Alkitab juga dapat ditemui bahwa ada orang yang dibaptis ulang tetapi persoalannya adalah bahwa mereka pada awalnya dibaptis oleh Yohanes sebagai tanda pertobatan dan memang mereka belum dibaptis dalam nama Tuhan Yesus (Kisah Para Rasul 19:1 dst).
Masih terkait dengan baptisan, aliran pertama umumnya tidak melakukan baptisan anak dengan pertimbangan praktis bahwa menyelam mereka adalah bahaya dan juga pemahaman teologis bahwa pengakuan iman dari diri sendiri yang menjadi dasar pelaksanaan baptisan sedangkan gereja aliran kedua melakukan baptisan anak dengan pemahaman teologis bahwa Allah melakukan perjanjian anugerah yang alamatnya adalah bagi 'kamu dan bagi anak-anakmu' dan bahwa secara praktis dapat dibenarkan oleh kenyataan bahwa ada banyak keluarga yang menerima baptisan sekeluarga (berarti dewasa dan anak-anak) dalam kesaksian Alkitab, misalnya dalam Kisah para Rasul 16:15; 16:33; 18:8. Mungkin keluarga stefanus juga menerima baptisan sekeluarga (1 Korintus 1:16).
Mengakhiri bagian ini marilah kita merenungkan bahwa baptisan bukanlah untuk kebersihan jasmani melainkan untuk kebersihan batin (1 Petrus 3:21) dan bahwa kita diingatkan oleh Alkitab bahwa orang yang masih bertentangan soal baptisan adalah mereka yang imannya belum berkembang (Ibrani 6:1-2).
Marilah kita menyadari bahwa satu tantangan berat bagi gereja yang menyulitkan pekabaran Injil Kerajaan Allah kepada seluruh dunia adalah pertentangan yang terjadi dalam gereja itu sendiri sehingga gereja seakan-akan 'bertarung untuk menyelamatkan orang yang telah selamat' dan amanat agung itu tertinggal. Gereja membawa dirinya ke tengah-tengah serigala sehingga sulit untuk bergerak dan serigala itu adalah perbedaan pemahaman tentang perkara-perkara praktis dalam iman.

Terlepas dari serigala yang telah dibicarakan, persolan karakter manusia yang memang sejak kecilnya selalu timbul kejahatan dari hatinya (Kejadian 8:21) adalah alasan lain untuk menjawab ya atas pertanyaan apakah gereja masih tetap seperti anak domba yang diutus ke tengah-tengah serigala untuk misi pekabaran Injil Kerajaan Allah. Manusia yang memang begitu gampang terjatuh daripada berusaha bangun membawa pada situasi serba sulit untuk memberitakan Injil kerajaan Allah. Serigala itu kadang-kadang berwajah/berpenampilan domba tetapi hatinya tetap serigala yang buas. Bahkan ada juga pekabar Injil Kerajaan Allah yang sudah cukup puas dengan hasil bahwa serigala itu sudah tidak mengancam domba.
Apa pun yang terjadi, marilah menyadari bahwa ada kemungkinan serigala-serigala itu menjadi domba tetapi bukan oleh kekuatan manusia yang hanyalah utusan melainkan oleh kekuatan 'tangan yang tak terlihat' yang mengutus untuk tugas itu; yang perlu diperhatikan adalah bahwa dalam situasi itu kita diminta untuk cerdik seperti ular dan tulus seperti seperti merpati.
Domba tidak boleh tidak pergi ke pengutusan ke tengah-tengah serigala sebab kita hanya benar-benar domba jika serigala itu telah menjadi domba.

Silakan membaca Cerdik Seperti Ular dan Tulus Seperti Merpati


12 November 2013

Studi Kelayakan Janji Jabatan Pendeta Gereja Toraja Mamasa

Studi Kelayakan Janji Jabatan Pendeta Gereja Toraja Mamasa

Pdt. Bangaran Pasamboan, S.Th.


Tulisan ini adalah perenungan terhadap situasi kelembagaan bergereja Gereja Toraja Mamasa yang mempunyai banyak persoalan (kata orang bijak bahwa masalah itu adalah berkat) dan cara menyelesaikan persoalan yang ada.
Tidak dimaksudkan untuk menganggap bahwa saya pandai dalam hal ini, juga tidak dimaksudkan untuk menyerang atau membela pihak-pihak tertentu tetapi hanya untuk mengemukakan apa yang ada di hati (atau barangkali di pikiran) dengan harapan bahwa setiap orang juga dapat memberi masukan untuk masalah ini dan itu akan menjadi titik temu bersama untuk keluar dari masalah yang sedang dihadapi.

Berikut adalah janji jabatan pendeta yang saya tandatangani ketika diurapi sebagai pendeta Gereja Toraja Mamasa ke-200 pada Desember 2009:

  1. Menyerahkan seluruh hidup bagi pekerjaan Pelayanan Tuhan dan melakukan tugas Jabatan pendeta secara bertanggung jawab.
  2. Bersedia ditempatkan di seluruh Wilayah Pelayanan Gereja Toraja Mamasa.
  3. Dengan iman, mentaati Firman Allah sesuai kesaksian Alkitab dan menjaga kemurinian Azas Ajaran Gereja Toraja Mamasa serta menjunjung tinggi segala peraturan dan ketentuan yang berlau dalam Gereja Toraja Mamasa.
  4. Memelihara kekudusan dan kewibawaan Jabatan Pendeta serta tunduk pada teguran Gerejawi bila saya menyimpang dari kehendak Allah.
  5. Demi menjaga netralitas pelayanan, saya tidak akan terlibat dalam kegiatan politik praktis dan tidak akan menjadi pengurus Partai Politik.
  6. Jika di kemudian hari saya beralih tugas ke pekerjaan lain yang bersifat mengikat dan penuh waktu (Pegawai Negeri Sipil (PNS), Anggota TNI dan Polri), atau jabatan penuh waktu lainnya yang tidak ada hubungannya dengan tugas organik gerejawi maka dengan rela hati saya akan bersedia meninggalkan jabatan kependetaan dan / atau diberhentikan dengan hormat sehingga urapan saya dinyatakan gugur dengan sendirinya.

Dari seluruh janji jabatan itu, saya tersentak ketika membaca pernyataan bahwa saya berjanji untuk tidak terlibat pada kegiatan politik praktis sementara ketua 1 Badan Pekerja Sinode yang membidangi kependetaan (istilah Badan Pekerja Majelis Sinode -- BPMS digunakan setelah Sidang Sinode Am XVIII di Lebbeng, Juli 2013) pada waktu itu adalah seorang pendeta yang duduk di bangku legislatif, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kabupaten Mamasa. Selain dia, juga ada beberapa pendeta Gereja Toraja Mamasa lainnya yang duduk di bangku DPR pada tingkat kabupaten dan propinsi; mereka yang membuat orang lain berjanji terlebih dahulu melanggar apa yang mereka harapkan bisa dicapai oleh orang lain padahal mereka adalah sama-sama berada pada tugas yang sama untuk "Pihak" yang sama.
Saya menandatangani janji itu sebab saya secara pribadi memang tidak tahu-menahu soal politik dan memang tidak tertarik untuk terlibat di dunia seperti itu.

Sampai tulisan ini dibuat, saya telah tiga kali mengikuti acara pengurapan pendeta dan janji yang sama tetap diucapkan oleh semua pendeta yang saya hadiri pengurapannya, terakhir pendeta yang diurapi pada bulan Oktober 2013 sebagai pendeta Gereja Toraja Mamasa ke-282.

Memang sejak Sidang Sinode Am Gereja Toraja Mamasa XVIII, sudah ada kontroversi dalam tubuh Gereja Toraja Mamasa mengenai keterlibatan pendeta Gereja Toraja Mamasa dalam kegiatan politik praktis (yang dimaksudkan dengan istilah ini adalah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan kegiatan yang terkait dengan itu). Banyak orang yang tidak setuju jika pendeta terlibat dalam kegiatan politik praktis tetapi suara sebaliknya yang lebih sedikit itu keras dan dapat menimbulkan persoalan, maka diambillah keputusan bahwa jika pendeta Gereja Toraja Mamasa terlibat dalam kegiatan politik praktis, maka ia terbatas (oleh berbagai aturan) dalam tugas kependetaannya.
Sidang Sinode tahunan pada tahun 2012 di Makassar membentuk satu tim untuk menyusun kebijakan sebagai penjabaran dari keputusan Sidang Sinode Am XVIII tentang keterlibatan pendeta dalam kegiatan politik praktis. Panitia ini bekerja selama setahun dan hasil kerja mereka kembali mengacu kepada suara banyak dalam persidangan Sidang Sinode Am XVIII bahwa pendeta Gereja Toraja Mamasa yang terlibat dalam kegiatan politik praktis digugurkan kependetaannya tetapi keputusan persidangan dalam Sidang Sinode Tahunan di Mehalaan pada tahun 2013 memutuskan bahwa pendeta yang terlibat dalam kegiatan politik praktis di-status-cuti-kan dari tugas kependetaan selama ia berada dalam kegiatan politik praktis.

Seluruh proses yang dilalui dalam kehidupan bergereja Gereja Toraja Mamasa untuk pergumulan keterlibatan pendeta Gereja Toraja Mamasa dalam kegiatan politik praktis dan itu sudah sedikit tergambar dalam tulisan ini, ada nilai ideal yang ingin dicapai bersama, yaitu bahwa pendeta Gereja Toraja Mamasa tidak terlibat dalam dunia politik praktis tetapi memusatkan perhatiannya pada kegiatan pelayanan yang membangun jemaat secara langsung sebagai tenaga pendeta di jemaat (jemaat-jemaat bahkan klasis). Mungkin ini juga terkait dengan keprihatinan banyak orang melihat bahwa tenaga pendeta Gereja Toraja Mamasa masih sangat kurang.

Kembali ke janji jabatan pendeta Gereja Toraja Mamasa yang disorot dalam tulisan ini.
Jika aturan Gereja Toraja Mamasa memperbolehkan pendeta terlibat dalam kegiatan politik praktis, secara halus diungkapkan bahwa jika ada celah untuk itu, mengapa pendeta yang diurapi mengucapkan janji yang berlawanan dengan aturan itu? Benarkah bahwa pendeta yang tidak mengucapkan janji yang sama secara moral tidak terbeban jika mereka terlibat dalam kegiatan politik praktis?
Jika pendeta Gereja Toraja Mamasa yang menjanjikan tidak terlibat dalam kegiatan politik praktis pada masa awal tugasnya adalah pendeta yang taat dan tidak menggunakan celah yang ada dalam aturan Gereja Toraja Mamasa, maka syukur kepada Tuhan. Tetapi jika ia menggunakan celah itu, maka Gereja Toraja Mamasa membuat kuangan besar untuk kejatuhan pelayan-pelayan Tuhan.

Berikut, saya tertarik untuk mengetahui sejak kapan janji ini mulai disebutkan oleh pendeta Gereja Toraja Mamasa ketika diurapi dan bagaimana itu di-ada-kan;
Apakah itu melalui sebuah keputusan persidangan, ataukah rapat internal personil BPS, ataukah oleh orang yang mengetik naskah janji yang akan dibacakan oleh pendeta yang akan diurapi yang merasa prihatin dengan keadaan Gereja Toraja Mamasa karena banyak pendeta yang terlibat dalam kegiatan politik praktis? Saya berharap bahwa itu adalah poin yang disepakati bersama oleh Gereja Toraja Mamasa ...
Pertanyaan ini diajukan sebagai sarana untuk mempertemukan pemahaman sebagian kecil tenaga pendeta Gereja Toraja Mamasa yang tidak mengucapkan janji yang sama dan tertarik untuk terlibat dalam kegiatan politik praktis dengan tidak merasa terbeban meninggalkan pelayanan menggembalakan domba-domba dan mungkin sedikit dari tenaga pendeta yang telah mengucapkan janji itu tetapi tertarik untuk mempergunakan celah dalam aturan Gereja Toraja Mamasa agar tetap memahami bahwa tindakan manusia memang selalu ada kelebihannya tetapi tetap ada titik lemahnya dan marilah kita melihat serta yakin bahwa urusan kehidupan sebenarnya tidak pernah menjadi urusan antara manusia dengan manusia tetapi apa pun bentuknya semua itu adalah urusan antara seseorang dengan Tuhannya (khusus pendeta, baca: hamba dan Tuannya).

Demikian tulisan singkat ini, kiranya dapat menjadi segenggam tepung tuk membuat roti yang enak bagi kehidupan bergereja Gereja Toraja Mamasa.
Tuhan Yesus memberkati.

20130202