Kebahagiaan itu ukurannya bukan terutama pada dirimu tetapi pada orang lain. Jika kau bahagia dan orang lain tidak merasakannya, maka kebahgiaan itu hampa; sangatlah tidak manusiawi jika seseorang mengalami kebahagiaan dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain. Walau memang sulit untuk mengatakan bahwa marilah kita menderita, terlebih lagi teramat sangat sulit untuk melakukan itu.
Kadar kebahagiaan bukan pada sesuatu yang diterima - meski itu juga termasuk di dalamnya tetapi apa yang diberi (Kisah Para Rasul 20:35); memberi satu kebahagiaan kepada orang lain berarti menikmati paling tidak dua kali lipat kebahagiaan dari yang diberikan itu. Jika berada pada pihak menerima, maka pastikan bahwa itu tidak datang dari awan di langit (mungkin lebih tepat: diterima secara cuma-cuma) dan berjanjilah bahwa itu tidak akan menjadi percuma. Sebab itu jika engkau mengalami keadaan yang sulit, tetaplah memberikan kebahagiaan bagi orang lain, maka orang lain akan berusaha memberikan kebahagiaan ganti penderitaanmu.
Jika kau mengatakan kesedihan dan penderitaanmu, maka orang lain akan ikut menderita bersamamu sehingga bisa jadi bahwa baik engkau maupun sesamamu akan sama-sama menderita dan kehilangan kebahagiaan; sulit menemukannya dalam pencarian bersama. Mencurahkan isi hati yang menderita tidak salah juga; itu wajar tetapi biarlah itu terjadi ketika pundakmu tak mampu lagi memikulnya atau kakimu tak mampu lagi menopang beban iitu untuk tetap berdiri.
Kesampingkan penderitaanmu - anggaplah itu ringan dan katakan "Jangan lupa berbahagia!"
Mencari kebahagiaan tidak dengan mengumpulkan semua yang baik dan indah tetapi memberi sebanyak mungkin kebahagiaan bagi orang lain. Tertawalah di depan mereka yang sedih supaya mereka tertawa bersamamu sebelum kita harus menyadarii bahwa situasinya sudah harus menangis dengan orang yang menangis (Roma 12:15).
Saya bahagia melihatmu bahagia walau aku tahu sesungguhnya engkau punya kesedihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar