09 Mei 2014

Isteri Tunduk, Suami Hormat

1 Petrus 3:1-7
Hidup bersama suami isteri


3:1 Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, 3:2 jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu. 3:3 Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, 3:4 tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. 3:5 Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya, 3:6 sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman. 3:7 Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.

Isteri Tunduk, Suami Hormat

1 Petrus 3:1-7

Ayat pertama dari pembacaan ini adalah panggilan yang sepertinya tidak sesuai dengan hakikat manusia. Sejak selesainya perang dunia kedua, dunia kita mengenal istilah human right yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah 'hak asasi manusia'. Ada banyak hak asasi manusia tetapi kalau hendak disimpulkan, maka hak asasi manusia adalah manusia itu bebas selama tidak mengganggu kebebasan orang lain. Tidak ada manusia yang berkuasa atas orang lain sebab setiap orang berhak atas hidupnya.
Kalau Petrus meminta agar dalam jemaat isteri tunduk kepada suami berarti rumah tangga Kristen itu melawan hak asasi manusia. Suami dapat dengan bebas memaksakan kehendaknya kepada isteri, misalnya jangan ikut kebaktian dan isteri tidak boleh melawan sebab itu adalah perintah Tuhan, ada dalam Alkitab. Benarkah demikian? Pada tempat yang lain dalam Alkitab dituliskan bahwa isteri tunduk kepada suami sama seperti tunduk kepada Tuhan (Efesus 5:22); itu berarti bahwa selama maksud suami bersesuaian dengan kehendak Tuhan, maka wajiblah isteri untuk tunduk pada kehendak itu. Kalau suami meminta tunduk untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, maka hendaklah isteri menjawabnya bahwa kehendak Pengantin Surga harus menjadi yang utama dan pertama untuk dipatuhi.
Tujuan isteri tunduk kepada suaminya adalah untuk memenangkan suaminya bukan karena takut. Jika suami bukanlah orang yang harus diperjuangkan artinya bahwa dalam keluarga yang berlaku adalah kesepakatan yang dilakukan dalam kasih Tuhan.
Jika suami masih harus dimenangkan, maka isteri tidak boleh melawan suami dengan catatan bahwa kehendak manusia tidak boleh lebih tinggi dari kehendak Allah. Ini adalah peringatan untuk semua, isteri dan suami, tetapi terutama bagi suami.
Hal berikut yang dibicarakan oleh Petrus adalah soal perhiasan wanita. Perhiasan wanita bukanlah pada hal-hal fisik dan materi tetapi pada hal-hal batiniah yang berharga kepada Allah. Perhiasan materi tidak masalah digunakan selama itu tidak merusak perhiasan batiniah. Ada dua perhiasan batiniah yang seharusnya dimiliki oleh isteri: 1). roh yang lemah lembut dan tenteram. 2). mempunyai pengharapan pada Allah.
Isteri yang menghayati dan memakai kedua perhiasan ini adalah isteri yang pasti berbuat baik dan ia tidak usah takut pada ancaman. Orang yang berbuat baik, pasti ada yang tidak menyukainya tetapi ia tidak usah takut sebab ada banyak orang yang akan mendukungnya dan melindunginya.

Kepada suami juga diminta untuk dua hal: 1). Hidup bijaksana dengan isteri yang adalah pihak yang lemah, dan 2). Menghormati isteri sebagai teman pewaris kasih karunia.
Bijaksana artinya tahu situasi yang ada, tahu mana yang baik dan mana yang buruk ~ mana yang benar dan mana yang salah lalu melakukan yang baik dan benar dengan cara yang baik dan benar dalam situasi yang tepat. Isteri adalah pihak yang lemah ~ perasaannya juga peka, halus dan lembut. Karena itu suami harus bisa menjaga perasaan isteri agar tidak terluka dan ia harus tahu mana yang baik untuk dilakukan kepada isterinya dalam segala perkara.
Mengenai pesan yang kedua, jangan salah mengerti bunyi kalimat hormatilah mereka seakan-akan laki-laki boleh mempunyai lebih dari satu isteri tetapi itu adalah bahasa yang disampaikan kepada para suami yang ada dalam jemaat agar mereka menghormati isterinya masing-masing. Dalam hal apa suami menghormati isteri? Dalam hal kasih karunia Allah bagi keluarga, yaitu kehidupan artinya dalam seluruh kehidupan. Suami dan isteri pasti berdoa untuk hidup yang bahagia dan sejahtera tetapi kalau suami tidak menghargai isterinya, maka doa itu terhalang -- tidak terkabul.
Amin

Pdt. Bangaran Pasamboan, S.Th.

07 Mei 2014

Kematian Yesus

Kematian Yesus

Markus 15:20b-41

Hal pertama yang dapat dipelajari dari pembacaan kita kali ini adalah bahwa kekerasan melahirkan kekerasan. Kekerasan orang Yahudi, khususnya pemimpin mereka yang adalah pemuka-pemuka agama yang memperalat kekuasaan Roma kepada Yesus menyebabkan kekerasan kepada Simon dari Kirene.
Kekerasan adalah rantai setan yang hanya bisa diputuskan dengan tekad untuk tidak melakukan kekerasan dan orang pertama yang harus menyadari hal ini adalah mereka yang menjalankan tugas sebagai tokoh agama atau yang biasa disebut rohaniawan.

Hal kedua adalah bahwa manusia harus belajar menanggung derita jika itu adalah kehendak Tuhan. Yesus diberi minum anggur bercampur mur untuk diminum-Nya tetapi Ia menolak. Minuman yang diberikan kepada Yesus mungkin sekali adalah sejenis obat bius agar ia tidak merasakan sakit tetapi Ia tidak meminumnya sebab Ia sadar bahwa apa yang dialami-Nya adalah kehendak Allah.
Banyak orang yang tidak melakukan kehendak Allah dalam hidupnya sebab ia tidak mau mengalami penderitaan. Musuh paling berat dalam melakukan kehendak Allah adalah memenuhi hasrat senang-senang; mau ke gereja untuk ikut ibadah tetapi lupa karena senang nonton pertandingan tinju di televisi. Dalam perayaan Jumat Agung kali ini, marilah kita belajar untuk siap menderita demi kemuliaan Tuhan yang mengasihi umat-umat-Nya sampai rela memikul salib dan menanggung kematian yang pedih.

Ketiga, alasan Tuhan Yesus disalibkan adalah karena rasa cemburu pemimpin Yahudi atas pengaruh Yesus kepada orang banyak yang tergambar dalam tulisan 'Raja orang Yahudi' ~ INRI -- Iesous Nazarenus Rex Iodarium (Yunani). Apa artinya ini? Saudaraku, memang manusia tidak suka kalau orang meninggikan derajatnya di hadapan sesamanya tetapi setiap pribadi ingin dikenal sebagai orang yang berderajat tinggi dan orang suka meninggikan diri di depan orang-orang. Yesus disalibkan karena status raja dunia tapi biarlah kita belajar menerima Dia sebagai raja di dalam hati -- untuk kehidupan rohani -- yang selalu mengajar kita untuk kerendahan.
Salibkanlah semua kesombongan diri, semua godaan yang membuat kita merasa berada di atas orang lain. Derajat tinggi orang percaya bukan karena ke'aku'an tetapi karena pelayanan bagi yang membutuhkan.

Keempat, mari kita melihat ayat 23, 33-37. Yesus berada di salib selama enam jam. Waktu yang cukup lama untuk menderita bagi manusia. Penderitaan yang dialami-Nya adalah penderitaan fisik yang sangat dan penderitaan batin. Secara fisik, Ia menderita menanggung rasa sakit pada kedua tangannya yang menanggung seluruh tubuhnya yang tergantung dan kaki yang menanggung berat tubuh juga harus sakit jika ia membiarkan tubuhnya bertumpuh pada kaki itu. Tidak ada pilihan yang enteng yaitu membiarkan tubuh menggantung pada tangan yang terpaku atau bertumpuh pada kaki yang juga terpaku; orang yang disalibkan biasanya meninggal karena kejang otot.
Jika Tuhan Yesus rela menderita untuk kita selama enam jam, maukah kita juga rela menderita selama enam jam untuk Tuhan? Jika saya menantang sidang jemaat untuk perayaan Jumat Agung ini tetap berada di gedung gereja ini sampai pada pukul tiga petang sebentar, bersediakah saudara? Kita tidak usah disalibkan di sini tetapi cukuplah bahwa kita ada di sini untuk mengenang bahwa Yesus telah menderita untuk kita. Yesus menderita untuk kita selama enam jam tetapi untuk berada di dalam ibadah sampai dua jam saja itu sudah terasa sangat berat bagi kita, sungguh suatu ketidakadilan.
Marilah kita belajar untuk mengorbankan waktu -- juga berarti mengorbankan urusan-urusan kita bersama dengan waktu itu -- untuk memuliakan Tuhan dalam kehidupan kita.

Peringatan kematian Yesus hari ini kiranya membawa kita untuk merenungkan kehidupan kita yang sangat sulit untuk berbuat bagi Tuhan karena mengejar harkat duniawi dan segala kesenangannya dan bersedia untuk menyalibkan semuanya itu. Kristus telah mati untuk kita; bersediakah kita untuk mematikan semua hal yang membuat Dia harus tersalib? Tuhan Yesus memberkati untuk mewujudkan hidup yang bermakna dalam mengikut Tuhan dengan semangat yang sungguh.
Amin

Pdt. Bangaran Pasamboan, S.Th.

Jemaat Filadelfia - Sikuku -- GTM, 18 April 2014 -- Jumat Agung.