04 Desember 2025

TIDAK MAU HIDUP SELAMA-LAMANYA

Kamis, 4 Desember 2025
Renungan Pagi

Ayub 7:16 
Aku jemu, aku tidak mau hidup untuk selama-lamanya. Biarkanlah aku, karena hari-hariku hanya seperti hembusan nafas saja.

TIDAK MAU HIDUP SELAMA-LAMANYA

Ini versi yang bertolak belakang dengan syair terkenal yang menyatakan keinginannya untuk hidup seribu tahun lagi yang mengingatkan betapa pentingnya manusia memperjuangkan hidup yang bahagia dabn sejahtera.

Ayub yang tidak mau hidup selama-lamanya dapat dipahami dalam dua pengetian: pertama bahwa karena keadaan hidupnya yang berat karena kesedihan dan sakit penyakit yang parah. Secara lebih mendalam, ini adalah perenungan tentang keadaan manusia yang fana dan akan ada masalah jika ia terus hidup.

Hidup yang diinginkan oleh setiap orang tentulah hidup yang bermakna. Ayub tidak ingin hidup untuk selama-lamanya sebab ia dalam keadaan yang tidak memberi makna dan peran bagi kehidupan karena ia sedang sakit yang sungguh-sungguh amat menderita. Hari-hariku hanya seperti hembusan nafas saja adalah cara Ayub menggambarkan keadaannya yang sedang tidak dapat melakukan sesuatu.

Kata-kata: 'Biarkanlah aku', adalah harapan Ayub untuk tidak dibebani dengan tuduhan-tuduhan seakan hidupnya sedang dihukum karena ia menyimpang dari jalan kebenaran. Hidup yang berkenan kepada Tuhan adalah dengan melakukan berbagai hal yang baik dan tulus sehingga hari-hari hidup ini bukan hanya seperti hembusan nafas saja.

Hal terakhir untuk dikatakan ialah bahwa Ayub percaya akan kuasa Allah yang berlaku atas manusia, karena itu yang dikatakannya tentang tidak mau hidup selama-lamanya bukanlah soal tidak ingin masuk surga. Karena itu selama hidup di dunia janganlah hidup ini hanya hembusan nafas saja supaya itu menggambarkan bahwa sesungguhnya kita ingin hidup untuk selama-lamanya.

Yohanes 15:8 
"... Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 Dilihat